Di manakah rasa itu kini? Kenapa aku sulit sekali menemukan rasa yang dulu ku miliki. Yang selama ini bersemayam di hati, sebagai kekuatan untuk ku menjalani hari2 ku di sini. Semua t’lah berubah kini, yang ku rasakan hanyalah sepi. Apa yang terjadi dengan hati ini?
Rasa kangen ingin denger suaranya, getaran di hati saat aku mengingatnya. Senyumnya, suaranya, tatapan matanya, yang selama ini selalu menimbulkan getaran di dada. Tapi kini, aku tidak bisa merasakanya. Yang ada hanya kebisuan. Diam, ga ada suara.
Apakah rasa itu telah pergi? Di manakah rasa itu kini? Sulit sekali untuk ku bisa mengerti semua ini.
rasa itu masih ada di antara jeruk dan apel kk
Oleh: almascatie on September 10, 2007
at 3:30 am
Rasa tidak akan kemana, selama masih punya lidah.
Oleh: Mihael "D.B." Ellinsworth on September 10, 2007
at 4:31 pm
#almascatie
Dan di antara jeruk dan apel itu ada almas yg baru mandi pake air cuka…
*walah2… malah jadi asem semua rasanya*
#Mihael “D.B.” Ellinsworth
Hehehe… tapi bukan hanya lidah yg berperan sebagai indera perasa kan….?!
Makasih udah maen ke sini…
Salam kenal yach…
Oleh: dwihandyn on September 10, 2007
at 11:52 pm
Mungkin itu skenario yg anda pilih utk dijalani dalam proses mengasah roh anda
*obsesi mode=on*
Oleh: CY on September 12, 2007
at 12:58 pm
ini sedang membicarakan rasa cahaya bukan?
Oleh: danalingga on September 12, 2007
at 8:35 pm
#CY
Jwbnya pasti ga mungkin!
Yach… skenarionya terlalu rumit…
Bukan aku yg memilih, tp emang pas dapet bagian yg kayak gini.
*apa mungkin skenarionya tertukar ma punya’an CY yach…?!*
Hihihihih~~~~
#danalingga
Hihihihi~~~ yg punya rasa cahaya rek…
Tapi ini bukan… bukan… n bukan….
Oleh: dwihandyn on September 12, 2007
at 11:21 pm
Nah.. udah baca postingan gw udah ngertikan kalau skenario yg Dwi pilih ga tertuker ama punya gw hehehe…
Asahlah kepekaan rohmu hingga setajam samurai
Oleh: CY on September 13, 2007
at 11:25 am
##CY
Iya nich… emang gini jalan yang harus gw lalui.
Hahahaha…. kan udah gw jwb klo itu pasti ga mungkin. Kikikikikikik…….
Harus mempersiapkan pengasah yang lebih hebat
Oleh: dwihandyn on September 13, 2007
at 11:41 am
Nah, kalau setiap org sudah mengerti jalan yg harus dia lalui, maka yg ada hanyalah fokus ke bagaimana melaluinya dan bukan merengek2 sama Tuhan minta jalan yg enak2. Kalo skenarionya enak2 terus kapan belajarnya.. ya kan? coba aja bandingin body org yg makan tidur dgn org yg fitness tiap hari, mana yg lebih pantas utk “cuci mata”??
Oleh: CY on September 14, 2007
at 12:49 pm
Bergelut dengan perasaan memang measyikkan yaaaa…
tapi kadang juga melelahkaaaaan….
Salam kenal.
Kandar Ag.
Oleh: kandar4thegoodnews on September 14, 2007
at 7:17 pm
#CY

Ya… ya… ya……
*berusaha sambil berdo’a “Semoga Tuhan memberikan jalan yg enak2″*
#Kandar Ag
Hehehe~~~ begitulah….
Kadang juga membingungkan…
Salam kenal juga yach…
Makasih udah singgah kesini…
Oleh: dwihandyn on September 15, 2007
at 9:23 am
Rasa itu yang nyanyi lagu, jangaaan… benci bilang cintaaaa…
Jangggaaannn, kau lukai hati…
Jangaannn kau…
*dibekab*
Oleh: manusiasuper on September 15, 2007
at 10:48 am
#manusiasuper
Klo nyanyi jangan setengah2….
Lanjutin donkkkkk….
*mic nya dah aku siapin nich…*
Oleh: dwihandyn on September 15, 2007
at 9:34 pm
Dalam bahasa Roma Irama, halah, “Sudah tiada baru terasa”. Kadang, setelah hilang, kita baru sadar pernah memiliki rasa itu.
)
Ribet. Salam kenal ya
Oleh: nesia on September 18, 2007
at 8:55 pm
#nesia
Hehehe… Memang bener. Dan setelah tersadar, rasa itu tinggal jadi kenangan…
Salam kenal kembali yach….
Makasih udah mampir kesini…
Oleh: dwihandyn on September 19, 2007
at 12:29 am
manis asem asin…
rame rasanya…………..
salam kenal ya :d
Oleh: mitsikuri on Februari 25, 2009
at 6:32 pm